Cerpen : Menunggu
“Saya tertarik tawaran mengikuti promosi pekerjaan itu”, paparnya. Suaranya terdengar antusias. “Kesempatan yang bagus, pengalaman baru, tempatnya masih asri meskipun terpencil”. “Dan gajinya lumayan, lima juta rupiah sebulan, semua kebutuhan ditanggung oleh perusahaan”, urainya. Tanpa melihat wajahnya pun,aku tau senyum optimis sedang mengembang di wajahnya. Ada getaran aneh berdesir di hatiku. Perasaan tidak enak. “Ya, apalagi dengan syarat harus lulus kuliah terlebih dahulu dan tidak boleh menikah selama 2 tahun”, sambar kakakku. Jleg! Jantungku seakan berdetak satu kali. Tidak boleh menikah?, Bagus..lanjutkan saja!. Rasanya ingin kulemparkan teko di hadapanku ini, tepat di wajahnya. “Lalu?” kuberanikan diri bertanya. Lirih, pelan, aku bahkan tak yakin dia bisa mendengarnya. “Ya, saya tertarik!”, katanya lugas. Bibirku urung mengucap, sebuah kata tanya berhenti di pangkal tenggorokanku. Lalu, bagaimana dengan kita?, batinku. “Kamu mau menunggu dia selama 2 tahun?...